Sup Kacang Hijau ( 10+ )

Bener – bener baru tau deh kalau kacang ijo tuh ternyata enak dibikin sup. Lebih enak dri kacang merah… sehat pulak. Dan terutama si adit yang belum bergigi di usia 11,5 bulan ini seneng banget, apalagi begitu hap… taraaa kok grenjel2 ya… jdi semangat deh ngunyahnya. Resep ini aku ujicoba berdasarkan buku Pak Wied Harry yah… so cekidot…

Bahan – bahan :

500 Ml Air matang

3 Sdm kacang hijau kering cuci bersih

2 Sdm daging cincang ( ayam atau sapi monggo )

1 buah tomat ( aslinya sih ga pake tomat tpi mayan buat nambah2 gurih sebelum pake garam )

2 Siung bawang merah cincang

1 sSiung bawang putih cincang

1/4 Siung bawang bombay

Gula Garam  secukupnya

1/4 Sdt Pala ( aku ga punya pala jdi pake sejumput oregano )

Daun seledri dan Bawang Daun

Butter untuk menumis ( aku pakai unsalted butter anchor )

Cara Membuat :

Masak air hingga mendidih, masukkan daging dan masak lagi hingga mendidih. Masukkan kacang hijau dan rebus sampai kacang hijau mulai merekah. Goreng 1 siung bawang merah + bawang putih hingga kecoklatan dan lumat kemudian masukkan kedalam rebusan kacang hijau. Masukkan tomat. Tumis 1 siung bawang merah dan bawang bombay kemudian masukkan kedalam air rebusan. Setelah kacang hijau merekah dan lunak masukkan gula garam oregano dan seledri + bawang daun. Masak kurang lebih 5 menit dan angkat. Sajikan dengan nasi hangat atau sebagai cemilan.

Leave a comment »

OBAT FLU UNTUK SI BAYI ASI

Kalau bayi ASI eksklusif terserang flu, apakah tetap tak perlu minum obat?

Bayi yang mendapat ASI saja hingga 6 bulan, tanpa tambahan asupan apa pun, terbukti lebih jarang terserang flu dan penyakit infeksi lain. ASI, seperti diketahui, mengandung zat-zat kekebalan tubuh (imunoglobulin) yang tidak terdapat pada susu formula. Namun begitu, bukan tidak mungkin bayi ASI pun terpapar influenza. Mengapa demikian? “Daya tahan tubuh yang rentan menyebabkan bayi mudah tertular batuk-pilek. Terutama dari orang-orang di sekitarnya yang sedang sakit flu. Jadi bukan karena ASI-nya yang tidak mujarab lo. Bisa dibayangkan bayi yang mendapat ASI eksklusif saja berpeluang terkena flu, apalagi bayi yang tidak ASI,” jawab Dr. Attila Dewanti, Sp.A.

Yang perlu diketahui, flu pada bayi tidak jauh berbeda dengan flu pada orang dewasa. Bayi akan mengalami gejala-gejala seperti hidung tersumbat, bersin-bersin, kadang disertai demam juga kemerahan di sekitar hidung dan mata. Si kecil jadi acap rewel dan susah tidur. Wajar bila orangtua jadi khawatir. Namun Attila tidak menyarankan kita untuk buru-buru memberinya obat­obatan yang membuat pemberian ASI jadi tidak eksklusif lagi.

Persoalannya, kalau tidak minum obat apakah flu pada bayi bisa sembuh sendiri? Bisa, kok, karena penyebab penyakit flu adalah virus yang umumnya akan mereda dalam waktu 4-7 hari. Hingga saat ini pun sebenarnya belum ada obat mujarab untuk membunuh virus. Obat flu yang ada hanya sekadar untuk meringankan gejala-gejalanya saja, seperti obat penurun demam, pelega hidung tersumbat, dan pengencer lendir.

Jadi memungkinkan sekali menyembuhkan flu bayi tanpa obatan-obatan. Caranya? Inilah kiat dari Attila:

* Meningkatkan imunitas

Dengan imunitas yang baik, bayi akan mampu membunuh virus yang menyerangnya. Saat ia terpapar flu, gempur penyakit itu dengan terus memberikan ASI. Malah kalau memungkinkan frekuensinya dipersering. Jangan lupa tingkatkan kualitas dan kuantitas ASI ibu dengan mengonsumsi makanan dan minuman kaya vitamin.

* Perbanyak asupan cairan

Untuk bayi di bawah 6 bulan, cairan hanya berupa ASI. Asupan cairan baik untuk mengontrol panas tubuh bayi, menghindarkan dirinya dari bahaya dehidrasi dan menjaga kondisi bayi agar tidak lebih parah.

* Mengeluarkan lendir

Ingus (bila keluar dari hidung) atau dahak (dari tenggorokan) bukanlah penyakit. Justru lendir tersebut adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan virus flu yang sedang menyerang. Bayi yang mengalami kesulitan mengeluarkan ingus mesti dibantu dengan menyedotnya agar tidak menghambat saluran pernapasannya (untuk caranya lihat boks).

Jika lendirnya kering dan hidung bayi tersumbat, cukup berikan obat tetes NaCL fisiologis 0.9% (20 ml) untuk melembapkan saluran pernapasannya. Teteskan paling tidak 3 kali sehari. Lendir yang lebih encer akan lebih mudah dikeluarkan lewat bersin, ingus di hidung, batuk, atau masuk ke dalam pencernaan bayi.

* Buat ruangan menjadi hangat

Ciptakan ruangan sehangat mungkin. Hindari udara yang terlalu kering. Jadi sebaiknya perhatikan pemakaian AC. Hawa kering dan dingin yang ditimbulkan penyejuk rungan bisa membuat lendir bayi mengering yang semakin membuatnya sulit bernapas.

* Ciptakan rasa nyaman dan aman

Flu membuat bayi cenderung rewel. Untuk itu beri dia rasa nyaman. Masing-masing ibu biasanya memiliki cara tersendiri untuk itu. Namun perlu diketahui, menggendong dengan teknik kontak kulit ke kulit (bayi didekap di dada ibu) baik untuk menetralisasi panas tubuh si kecil. Menjemur bayi antara pukul 07.00-08.00 pun membantu mengatasi flu.

* Lakukan fisioterapi

Bila dengan berbagai cara, flu yang diderita si kecil belum juga membaik dalam beberapa hari, pertimbangkan untuk melakukan inhalasi dengan membawa bayi ke klinik fisioterapi. Dengan fisioterapi lendir yang ada di saluran pernapasan anak juga akan luluh dan terbuang lewat feses.

OBAT FLU BAYI TIDAK ASI

Sebenarnya treatment untuk bayi tidak ASI yang sedang menderita flu tidak jauh berbeda. Tak perlu tergesa-gesa memberinya obat dan lakukanlah hal-hal di atas tadi. Cukup dengan asupan susu formula yang lebih banyak dan air putih. Bagi bayi 6 bulan ke atas (yang sudah mendapatkan makanan padat), buah segar dan sup/air kaldu akan membantu mengatasi hidung mampatnya.

Namun, bila flu dirasa begitu mengganggu (bayi terus-menerus menangis, demam tidak turun, sulit tidur), obat-obatan mulai bisa dipertimbangkan. Ini agar flu tidak sampai mengganggu kenyamanannya. Inilah beberapa obat yang dapat digunakan untuk meringankan flu pada bayi:

* Obat-obatan golongan antihistamin untuk mengurangi produk lendir sehingga napasnya menjadi lega kembali.

* Obat penurun panas (ada yang mengandung asetamenofen/parasetamol atau ibuprofen) konsultasikan pada dokter anak Anda. Bila demamnya tinggi kombinasikan dengan kompres.

* Obat pereda batuk (bila ada gejala batuk yang parah). Batuk berdahak bisa juga diatasi dengan inhalasi.

* Suplemen vitamin diberikan agar pemulihan kondisi si kecil bisa lebih cepat. Bila nafsu makannya menurun, akan diberikan juga vitamin penambah nafsu makan bagi bayi yang sudah mendapat makanan pendamping ASI.

* Hindari pemberian antibiotik karena antibiotik bukanlah obat untuk flu.

MEMBUANG INGUS

Menyedot ingus bisa dilakukan dengan mulut ibu. Namun, cara ini bukan tidak mengandung risiko. Mulut manusia, terutama bila dalam keadaan sakit, merupakan sarang kuman. Bagi orang dewasa, kuman-kuman tersebut mungkin tidak menimbulkan masalah besar. Namun bagi bayi, kuman tetaplah benda asing yang bisa membahayakan kesehatannya. Bagi bayi yang lemah, kuman di mulut ibu bisa menjadi sumber penyakit lain. Flu biasa justru bisa makin parah.

Alat sedot lendir yang banyak dijual di pasaran juga tidak bisa dikatakan aman 100%. Cara penggunaannya yang harus dimasukkan ke hidung bayi dapat mengiritasi. Lendirnya pun tidak dapat tersedot banyak. Apalagi menyedot ingus bayi dengan alat sedot mesin, cara ini tidak dianjurkan karena kelewat agresif.

Yang terbaik, lap saja hidung bayi yang beringus dengan cara menekan lembut dengan sapu tangan atau tisu bersih. Tekanan ini membantu mengeluarkan lendirnya di hidung. Untuk membersihkan bekas lendir yang sudah mengering di sekitar lubang hidung bayi, gunakan cotton bud yang sudah dibasahi. Jangan memasukkan cotton bud terlalu dalam.

KAPAN MENGHUBUNGI DOKTER

* Jika anak demam

Bayi < 3 bulan dengan suhu tubuh 38°C

Bayi 3-6 bulan dengan suhu tubuh 38,5°C

Bayi > 6 bulan dengan suhu tubuh 38,5-39°C

Demam sudah berlangsung 72 jam

Susah minum atau tidak mau minum (dikhawatirkan akan dehidrasi)

Rewel/menangis terus-menerus atau tidak dapat ditenangkan

Tidur terus-menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)

Kejang atau kaku kuduk leher

Sesak napas

Muntah

Diare terus-menerus

* Selesma

Demam lebih dari 72 jam

Batuk lebih dari satu minggu. Atau batuk hebat dengan muntah- muntah.

Rewel

Tidur terus-menerus

sesak napas atau tampak kebiruan sekitar bibir dan mulut.

Jarang buang air kecil atau tidak mau minum.

Dahak ada darahnya.

Ingus hijau kental lebih dari 2 minggu.

* Batuk

Mengalami kesulitan bernapas (ditandai dengan bernapas sekuat tenaga; tampak otot-otot di sela-sela iga tertarik ke dalam.

Bayi berusia < 3 bulan yang terbatuk-batuk selama beberapa jam;

Batuk-batuk yang membuat bayi sampai sulit bernapas

Ada darah pada dahak (kecuali bila anak baru saja mengalami mimisan, maka biasanya darah di dahaknya tidak perlu dikhawatirkan)

IBU YANG MINUM OBAT?

Salah besar bila ada anggapan, untuk menyembuhkan flu yang diderita bayi, cukup ibu (menyusui) saja yang minum obatnya. Toh, nanti obat itu akan masuk ke tubuh bayi melalui ASI. Ini jelas tidak benar. Berbeda kalau ibu menyusui yang terkena flu, tentu boleh minum obat. Tapi obatnya mesti yang aman bagi ibu menyusui. Untuk itu konsultasikan sebelumnya dengan dokter.

Gazali Solahuddin. Foto: Iman/nakita

Sumber : http://corpusalienum.multiply.com/journal/item/697/Obat_Flu_untuk_Bayi_ASI

Leave a comment »

PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA 6-12 BULAN

Motorik Kasar 

  * DUDUK TANPA PEGANGAN (5 bulan 1 minggu – 7 bulan) 

Di usia ini bayi sudah mulai bisa duduk tanpa pegangan.

 * BERDIRI DENGAN PEGANGAN (6,5 bulan – 8 bulan 3 minggu)

 Setelah bisa duduk sendiri, orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh anak di boks atau di lantai yang beralas. Kemudian letakkan kursi/meja kokoh sebagai pegangan. Sedangkan bila di boks kayu, biasanya anak akan mencoba berdiri sambil berpegangan pada tiang-tiang boks.

 * BANGKIT UNTUK BERDIRI (7,5 bulan – 10 bulan)

 Dari posisi duduk dan tangan memegang pegangan, bayi berusaha mencoba bangkit untuk berdiri. Sebaiknya meja/kursi sebagai tempat pegangan harus kokoh, hingga anak tidak mudah jatuh.

 Selagi “dilepas” di lantai, sebaiknya jangan menggunakan kaos kaki karena licin dan bisa membuatnya terpeleset lalu jatuh. Tentu saja pengawasan orang tua sangatdiperlukan.

 * BANGKIT LALU DUDUK (7 bulan 1 minggu – 10 bulan 1 minggu)

 Semula bayi dalam posisi telungkup atau telentang. Kemudian ia akan bangkit, mencoba merangkak dan mengangkat lengannya agar bisa tegak. Ia juga mencoba mengangkat pantatnya, kemudian duduk. Orang tua bisa membantunya dengan menarik atau memegang kedua tangannya. Agar bayi terangsang melakukan kegiatan ini, sering-seringlah menaruhnya di tempat tidur atau kasur di lantai.

 * BERDIRI 2 DETIK (9 bulan 1 minggu – 12 bulan)

 Bayi betul-betul sudah bisa lepas dari pegangan, bahkan orang tua bisa menghitung dia berdiri dalam 2 detik. Setelah itu biasanya jatuh lagi karena keseimbangannya belum begitu baik. Namun jatuhnya tidak tergeletak dengan kepala terantuk ke lantai, melainkan dengan posisi terduduk. Karena itu, agar jatuhnya enak, sebaiknya lantai diberi alas.

 * BERDIRI SENDIRI (10 bulan 1 minggu – 13 bulan 3 minggu)

 Anak sudah tidak berpegangan lagi ketika berdiri. Kini ia sudah memiliki kestabilan, hingga tidak terjatuh.

 * MEMBUNGKUK KEMUDIAN BERDIRI (11 bulan – 14 bulan)

 Anak sudah bisa berdiri sekaligus dapat membungkuk menuju posisi jongkok, kemudian berdiri tegak lagi. Orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh mainan atau barang yang bisa menarik perhatiannya di lantai.

 * BERJALAN DENGAN BAIK (11 bulan – 15 bulan)

 Sebelum bisa berjalan, biasanya orang tua mulai menitahnya. Bisa dengan memegangi kedua tangannya atau kalau merasa khawatir bisa pegangi bagian ketiaknya. Lama waktu menitah tak ada batasan. Di usia belajar berjalan ini (sekitar 13 atau 14 bulan), anak masih takut-takut dan kadang jatuh.

 Untuk menstimulasi anak agar mau belajar jalan, harus hati-hati. Jangan sampai anak trauma dan akhirnya malah takut berjalan. Kalau sampai terjatuh dan membuat anak merasa sakit sekali, umumnya membuat anak jadi trauma. Sebaiknya, saat anak sedang belajar jalan, orang tua harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Jangan sampai ada benda-benda kecil di lantai yang bisa terinjak dan membuatnya kesakitan atau malah terpeleset dan jatuh.

 Selain itu, tidak dianjurkan menggunakan baby walker karena tidak melatih bayi melangkah atau mengangkat kakinya, hingga kemampuannya melangkah kurang terasah. Soalnya, baby walker hanyalah menggeser anak berpindah tempat dan bukan melangkah. Jauh lebih baik melatihnya dengan menitah anak.

 Agar anak bisa cepat dilepas dari titah, harus ada dukungan dari orang tua. Usahakan ada dua orang yang menstimulasinya belajar jalan. Seorang memegangnya dan seorang lain berjaga di depannya dengan jarak yang disesuaikan. Artinya, bila anak baru mampu berjalan selangkah dua langkah, si penjaga ini berjarak selangkah dua langkah pula. Bila sudah mulai agak lancar, jarak tersebut bisa semakin dijauhkan. Dengan demikian anak memiliki rasa percaya diri. Ia tahu persis, kalaupun jatuh, ada orang yang berjaga di depannya dan siap melindunginya.

 * BERJALAN MUNDUR (12 bulan 1 minggu – 16 bulan)

 Setelah kemampuan jalannya membaik, dengan sendirinya anak akan mulai belajar mundur. Ini merupakan salah satu bentuk eksplorasinya. Kelak ia pun akan belajar berjalan ke samping kiri-kanan, memutar, lalu belajar berlari.

Motorik Halus Banyak orang tua, kata Rini, yang kurang memperhatikan kemampuan motorik halus. Padahal, ini penting dan lebih bermakna karena mengarah pada intelegensia anak. Dari sinilah nantinya akan terlihat kemampuan anak menulis. “Anak yang selagi di playgroup atau TK belum bisa memegang pensil dengan benar, ternyata di usia sekolah kemampuan menulisnya kurang baik.” Berikut perkembangan motorik halus bayi usia 6-12 bulan:

 * MENGAMBIL 2 KUBUS (5 bulan 3 minggu – 9 bulan 3 minggu)

 Ukuran kubus biasanya sekitar 1 inci atau 2,5 cm, tidak terlalu besar juga tak kelewat kecil. Kalau terlalu kecil, sulit dipegang dan kelewat besar juga sulit diraih. Gunakan kubus dari bahan kayu yang cukup aman yakni sudut-sudutnya tidak lancip. Di usia ini bayi sudah mulai bisa mengambil satu per satu kubus dengan jemarinya.

 * MEMEGANG DENGAN IBU JARI DAN TELUNJUK (7,5 bulan – 10,5 bulan)

 Biasanya yang dijadikan parameter objeknya adalah kismis mengingat ukurannya yang relatif kecil sekaligus aman jika termakan oleh anak. Taruh kismis di hadapannya dan dia akan mengambilnya dengan cara menjimpitnya menggunakan jari-jemarinya.

 * MEMBENTURKAN 2 KUBUS (6 bulan 3 minggu – 11 bulan)

 Anak sudah bisa memegang kubus-kubus yang digunakan di tahap perkembangan sebelumnya. Dengan kedua tangannya, ia akan melakukan gerakan membentur-benturkan kedua kubus tersebut.

 * MENARUH KUBUS DI BAWAH (10 bulan – 14 bulan)

 Ketika memegang kubus, anak sudah bisa menggunakan dua atau tiga jari lainnya. Ia kemudian akan memasukkan kubus tersebut ke dalam wadah.

 * CORAT-CORET (12 bulan – 16,5 bulan)

 Meski belum bisa memegang alat tulis dengan benar, anak sudah bisa mencoret-coret. Untuk mengakomodir kemampuan tersebut, beri kertas dan pensil warna yang tak berujung lancip. Sebaiknya jangan pilih krayon atau spidol karena biasanya menempel/membekas di tangan. Belum lagi anak cenderung memasukkan segala sesuatu ke mulut (fase oral).

 * MENGAMBIL & MENUNJUKKAN MANIK-MANIK (12,5 bulan – 19,5 bulan)

 Orang tua bisa mengajarinya dengan menaruh kismis dalam botol. Lalu balikkan botol sehingga isinya tumpah. Ambil kismisnya dan tunjukkan padanya. Minta anak melakukan hal sama.

 Leher maupun mulut botol sebaiknya tidak terlalu lebar ataupun terlalu kecil. Kalau terlalu lebar anak cenderung akan mengambil kismisnya dengan memasukkan seluruh tangannya dan bukan cuma jarinya. Sedangkan kalau terlalu kecil, kismis akan susah keluar dari botol.

 

sumber : http://corpusalienum.multiply.com/journal/item/715/Perkembangan_Motorik_6-12_Bulan

Leave a comment »

MENGAJARI SI KECIL MAKAN SENDIRI

Makan sendiri? Mana mungkin? Bisa-bisa meja makan berantakan dan taplak kotor semua. Tapi itu memang salah satu risikonya. Karena, kalau tak sedini mungkin diajari, si kecil tak akan pernah bisa makan sendiri. 
Pada setiap jam makan Doni (3), Lucy selalu pusing. Bukannya duduk diam di meja makan memakan makanannya, Doni memilih kebut-kebutan keliling rumah dengan sepeda mininya. Alhasil, tiap jam makan, Lucy pun harus berteriak-teriak memberi aba-aba Doni, agar “Pak Sopir kecil” ini mengangakan mulutnya setiap kali mampir ke tempat duduknya. Tapi sampai kapan hal ini terus berlangsung? 

Mengajarkan anak makan memang gampang-gampang susah. Diperlukan kesabaran ekstra untuk menghadapinya. “Tak bisa kita mengharapkan ia makan cepat-cepat. Pun tak bisa kita tinggal mereka makan sendirian. Bisa-bisa, meja makan kita penuh dengan tumpahan makanan mereka. Atau bahkan ia hanya main-main dengan makanannya. Yang paling baik adalah mendampingi mereka saat makan,” tutur Dra. Surastuti Nurdadi, MSi dari Fak. Psikologi UI. 

Menurut Surastuti, mengajarkan makan sebaiknya sejak sedini mungkin. “Bahkan kalau bisa sejak ia bisa memegang sesuatu, saat usia 8 hingga 10 bulan. Ajarkan ia memegang makanan kering yang bisa digenggamnya. Misalnya, biskuit.” Anak yang sudah bisa memegang sesuatu, lanjutnya, biasanya juga mulai meniru orang dewasa. Bahkan hampir semua yang dipegang dimasukkan ke dalam mulutnya. “Nah, saat itulah ia kita latih untuk mulai makan sendiri.” 

Mungkin untuk belajar makan sendiri pada usia 8-10 bulan belum memungkinkan. “Tapi pada usia itu kita justru melatih disiplin anak bahwa kalau makan, ya, di meja makan.” Misalnya, saat menyuapi si kecil bubur, suapilah sambil duduk di meja makan. “Yang penting, ia tahu, makan harus di meja makan. Jangan sambil jalan-jalan. Kalau kita latih ia sejak dini, lama-lama hal itu akan tertanam di benaknya.” Kebiasaan ini tetap harus dipegang saat ia diajak berkunjung ke rumah nenek atau saudaranya. “Sehingga ia akhirnya sadar, begitu didudukkan di kursi makan, berarti waktunya ia makan. Kalau ia belum bisa duduk, pangku, tapi tetap di meja makan.” 

Kalaupun ia rewel, menolak makan di meja makan, jangan cepat-cepat menyerah lalu menyuapinya sambil berjalan-jalan. “Anak jadi tidak bisa menghargai waktunya makan. Lagi pula, sampai kapan ia akan begitu terus. Itulah perlunya melatih si kecil sejak dini.” 

MOGOK MAKAN

Tahap berikutnya adalah mengajarkannya makan sendiri setelah si kecil telah bisa memegang peralatan makan dengan benar. Terutama pada saat ia berusia 1-3 tahun. “Tentunya dengan sendok dan garpu untuk ukuran mereka. Dan sebaiknya peralatan makan ini bergambar lucu yang menarik perhatian mereka.” Di saat ini, ibu sudah bisa melatih anak cara menyuapkan makanan ke mulut. “Selain melatih si kecil belajar makan, sekaligus kita juga melatih motorik tangan mereka. Karena kalau tidak dilatih sejak kecil, bisa jadi ia memegang sendok dan garpu itu dengan cara yang aneh, misalnya seperti orang yang mencangkul.” 

Surastuti juga mengakui, untuk meminta si kecil duduk diam dengan manis di meja makan memang bukan pekerjaan mudah. Bisa saja terjadi, baru duduk 5 menit, ia sudah turun dan main kembali. “Itulah mengapa pada saat makan sebaiknya konsentrasikan ia pada makanan. Jangan biarkan hal-hal di luar dirinya mengganggu konsentrasinya.” Contohnya, jika ada anggota keluarga lain yang menonton teve, lebih baik segera dimatikan karena bisa jadi si kecil pun ingin ikutan menonton teve. “Bahkan hal ini bisa dijadikannya sebagai alasan untuk menolak makan. Kalaupun mau, makannya sambil menonton teve. Ini, kan, sama saja dengan merusak disiplin yang sudah kita ajarkan.” 

Selain itu, mainan mereka pun lebih baik dijauhkan karena dapat mengganggu konsentrasi anak. “Jika ia memaksa membawa mainannya ke meja makan, tekankan padanya, ia boleh membawanya tapi tidak untuk dimainkan.” 

Di sisi lain, sebagai orangtua, Anda juga harus maklum dan sabar jika meja makan menjadi berantakan dan taplak menjadi kotor karena ulah si kecil. “Namanya juga masih belajar. Wajar saja jika makanan itu loncat sana-sini. Karena itu, dampingilah ia selagi makan,” pesan Surastuti. Jika ia mengotori taplak dan Anda marah, “Ini akan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan pada si anak perihal makan. Kalau trauma makan itu membekas, ia pasti akan mogok makan.” 

Nah, kalau sudah begitu, apa yang harus kita lakukan? “Ubah sikap! Jadikan suasana makan menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Tak perlu marah-marah atau tergesa-gesa menuntut anak makan cepat. Bersikaplah santai dan tenang saat mendampinginya.” Ibu pun tak usah buru-buru membantu anak bila si kecil belum juga berhasil memasukkan makanan ke dalam mulutnya gara-gara selalu tumpah. “Kalau ia sudah capek atau bosan, baru kita bantu. Ini penting untuk melatih kemandiriannya.” 

Di saat mendampingi si kecil belajar makan, ibu bisa bercerita tentang makanan yang disantap anak. Misalnya, “Kamu tahu, nggak, daging di sup yang kamu makan itu, namanya daging ayam. Ayam kakinya ada dua. Ayo, kamu bisa tidak menirukan bunyi ayam jago?” 

Yang juga patut diperhatikan, porsi makanan sebaiknya diberikan sedikit demi sedikit. “Kalau terlalu banyak, saat ia merasa bosan, makanan itu cenderung dibuat main. Jika itu yang terjadi, sebaiknya segera singkirkan makanan itu karena rasanya pun sudah tak enak. Kita saja yang dewasa jika makan terlalu lama dan sudah menjadi dingin, sudah tak berselera lagi. Nah, si kecil pun merasakan hal yang sama.” 

Atau, seperti dikatakan dr. Lindarsih Notowidjojo, M. Nutr. Sc, dari RS Siloam Gleneagles, Tangerang, mungkin orangtua lupa mengurangi jumlah susu untuk si kecil. “Semasa bayi, anak memang mengkonsumsi susu lebih besar dibanding makanan lainnya. Nah, saat ia batita, bisa jadi orangtua masih memberi porsi susu sebanyak dulu sehingga perutnya terlalu kenyang untuk makan makanan lainnya.” 

Lindarsih juga menyarankan agar saat pemberian susu diatur jaraknya agar tak terlalu dekat dengan waktu makan. “Kalau jam 11 ia diberi susu lalu jam 12 harus makan, tentu saja ia masih kenyang. Apalagi, lambungnya, kan, masih kecil.” Karena itulah, porsi makan juga harus diatur. “Sedikit demi sedikit. Kalau dalam tiga hari berturut-turut anak tak mampu menghabiskan makannya, lebih baik kurangi porsinya pada hari keempat. Jika ia sanggup menghabisinya, bisa ditawari untuk menambah.” 

Jika si kecil tak juga mau menghabiskan makanannya, jangan buru-buru menggantinya dengan susu dalam jumlah yang banyak. Tetapi teliti dahulu kemungkinan penyebabnya. “Ada, kan, ibu yang khawatir anaknya kelaparan karena tak mau makan. Jadi, si kecil diberi susu banyak-banyak. Meski susu itu lengkap komposisinya, tetap tak cukup karena si kecil sudah memerlukan kalori yang tinggi demi bekal pertumbuhan otak dan badannya. Jadi, ia harus tetap diberi makanan padat.” 

CARI TAHU PENYEBABNYA

Mengenalkan makanan pun, misalnya buah, sebaiknya jangan langsung satu buah. Berikan seiris dulu, yang penting ia mengenal rasa dan tahu cara memakannya. Baru kemudian ditambah secara bertahap. Jangan pula berpikir si kecil tak punya rasa dan tak memiliki perasaan akan keindahan. Bubur yang dibuat asal saja, berbau amis, jelek penampilannya, akan mengurangi selera si anak. 

Berikan pula padanya kebebasan untuk memilih makanan yang hendak disantapnya. “Hal ini sering dilupakan orangtua karena menganggap makanan yang sehat untuk anak adalah menu itu. Alhasil, hanya makanan itu yang terus dimasak ibu.” 

Selain itu, ibu juga harus pandai memvariasikan makanan anak. “Kita saja yang dewasa akan bosan kalau diberi makanan yang itu-itu juga. Makanan pun sebaiknya disajikan dengan indah dan menarik, sehingga ia merasa, makan bukan sesuatu yang membuat ia stres.” 

Pandai-pandailah pula memilah makanan mana yang bisa ia sendok sendiri dan mana yang harus disuapi. “Misalnya ikan. Kalau ia yang pegang, akan tumpah ke mana-mana dan amis. Jadi, lebih baik kita suapi sementara ia menyendokkan sendiri nasi ke mulutnya.” 

Jika si kecil menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyantap makanannya, cobalah cari tahu penyebabnya. “Mungkin makanannya terlalu keras sehingga susah ditelan. Bisa juga karena ia tak suka makanan berkuah. Bisa, kan, sayurannya ditaruh di piring si anak dan kuahnya dipisah dalam mangkuk sehingga ia semangat melahapnya.” 

Tak seperti yang kita bayangkan, ternyata anak amat menikmati saat-saat makan bersama anggota keluarga lainnya. “Ini bisa kita jadikan kebiasaan untuk mengikutkan ia pada kegiatan makan bersama. Masalahnya, jam makan si kecil biasanya berbeda. Nah, sesekali, yang tua mengalah, sehingga sekeluarga bisa makan bersama.” 

Makanan Sehat Buat Batita

dr. Lindarsih Notowidjojo, M.Nutr.Sc. dari RS Siloam Gleneagles, Tangerang, membenarkan, di usia batita inilah sebaiknya para orangtua mulai membiasakan anak mengkonsumsi makanan sehat. “Pada usia itu anak sudah bisa makan makanan padat. Sama seperti makanan orang dewasa. Hanya sebaiknya makanannya lebih empuk. Misalnya, nasinya adalah nasi tim. Kalaupun ingin menyuguhkan semur daging, cincang daging kecil-kecil dan dimasak hingga lunak.” 

Menurut Lindarsih, saat inilah orang tua membiasakan lidah anak dengan makanan sehat yang natural. Maksudnya, “Jangan banyak bumbu. Misalnya, jangan terlalu asin, pedas, atau manis.” Jika ia sering mengkonsumsi makanan yang berbumbu merangsang, seperti snack yang banyak dijual di pasaran, lidahnya akan menjadi terbiasa dengan rasa makanan tersebut. “Ini akan membuat ia berkeinginan untuk terus makan makanan itu. Akibatnya, pada saat mengkonsumsi makanan sehat yang natural, anak justru merasa hambar karena lidahnya sudah terbiasa makan makanan yang terlalu gurih.” 

Perlu pula diingat orangtua, makanan jenis itu berkadar garam amat tinggi dan tak baik bagi anak. “Begitu juga cokelat atau permen. Kadar gulanya yang tinggi tak baik bagi anak.” Namun bukan berarti bahwa si kecil sama sekali tidak boleh mengkonsumsi snack yang cenderung terasa gurih dan asin. “Kalau hanya seminggu sekali, masih oke.” 

Itu sebabnya orangtua bertanggung jawab untuk selalu menyediakan makanan sehat di sekeliling anak. “Kalau tidak ingin ia mengkonsumsi junk food seperti itu, ya, jangan sediakan makanan demikian di rumah sehingga ia pun tak terbiasa mengkonsumsinya.” Soal pengaruh iklan di teve, kata Linda, sikapi dengan bijaksana. Misalnya ia melihat iklan burger, “Bikinkan burger dengan kandungan gizi serta bumbu yang telah disesuaikan untuk anak seusianya. Sebab, burger atau pizza yang dijual di restoran fast food adalah untuk konsumsi orang dewasa,” papar Lindarsih. 

Masih menurut Lindarsih, makanan yang sehat bagi batita ibarat segitiga piramida. “Semakin ke atas semakin mengecil. Lapisan paling bawah atau yang paling besar adalah berisi sereal atau karbohidrat. Entah itu roti, jagung, beras atau gandum. Lapis kedua di atasnya adalah buah-buahan dan sayuran atau kacang-kacangan. Di atasnya lagi atau lapis ketiga adalah golongan protein dan susu. Bisa daging, telur, atau ikan. Sedangkan lapisan paling atas atau yang paling kecil adalah minyak, gula, dan garam.” 

Berikut contoh menu sehari bagi batita :
06.00 : Susu
08.00 : roti + orak-arik telur
10.00 : buah potong + air putih
12.00 : nasi tim + sup baso sapi + cah buncis ayam
16.00 : biskuit + susu
18.00 : nasi tim + soto ayam + semur daging + tumis wortel
20.00 : susu

Kapan Si Kecil Bisa Diajak Ke Restoran

Anak di atas usia 2 tahun, menurut Surastuti, sudah bisa diajak ke restoran. “Pada usia itu, biasanya anak sudah bisa duduk diam dalam waktu lama. Juga sudah bisa diberitahu bagaimana ia harus bersikap.” Tekankan padanya, yang makan di restoran bukan hanya dia, tapi ada orang lain sehingga ia tidak boleh berlarian atau berteriak-teriak.” 

Rencanakan pula sejak sebelum berangkat, menu apa yang diinginkannya. “Jangan sampai sesudah tiba di sana, si kecil protes tidak suka atas menu yang sudah dipilih dan malah rewel minta pulang.” 

Untuk mengantisipasi agar si kecil tidak mengganggu kenyamanan orang lain, pilih tempat duduk yang posisinya menutupi si anak. Misalnya, di dekat jendela kaca yang menghadap pemandangan luar dan orangtua duduk menutupi si anak. Selama makan, konsentrasikan ia ke makanannya. Misalnya, ceritakan padanya tentang makanan yang disantapnya sehingga ia tak punya kesempatan ingin berlarian ke sana-sini. 

sumber : http://corpusalienum.multiply.com/journal/item/737/MENGAJARI_SI_KECIL_MAKAN_SENDIRI

Leave a comment »

Pola Tidur Bayi

 

Pola tidur bayi baru (0 – 3 bulan)

Bayi baru memiliki rentang waktu tidur yang sangat lama, 17 hingga 18 jam perhari pada minggu-minggu pertama kelahiran mereka, dan perlahan-lahan berkurang hingga 15 jam perhari pada bulan ketiga. Sekalipun demikian bayi baru tidak pernah tidur lebih lama dari 3 – 4 jam setiap kali tidur, baik malam ataupun siang hari selama minggu-minggu pertama.

Perhatian: Waktu tidur Anda akan banyak terganggu. Malam hari Anda
harus menyusui dan mengganti popok bayi; sedangkan pada siang hari Anda akan bermain dengannya. Sebagian bayi baru ada yang dapat tidur sepanjang malam sejak lahir hingga berusia 6 minggu, namun kebanyakan pola ini baru dicapai bayi ketika mereka berusia 5 – 6 bulan. Anda dapat membantu bayi mencapai pola tidur malam yang panjang ini dengan melatih kebiasaan tidur yang baik sejak awal.

Tip membentuk pola tidur yang sehat

o Kenali tanda-tanda kelelahan

Selama minggu keenam hingga minggu kedelapan, bayi baru tidak dapat
bertahan bangun lebih dari dua jam. Jika Anda mengulur waktu lebih lama sebelum mengajaknya tidur, bayi akan kelelahan dan mengalami kesulitan tidur. Perhatikan tanda-tanda yang ditujukkan si kecil ketika dia mengantuk. Misalnya, mengucek-ngucek mata, menarik telinga, atau terlihat bayangan gelap di bawah matanya. Jika Anda menangkap
tanda-tanda seperti ini, atau tanda-tanda mengantuk lainnya, tidurkanlah si kecil segera. Sebagai orang tua baru, jangan ragu akan kepekaan Anda terhadap sinyal-sinyal yang ditunjukkan si kecil.

o Latih si kecil mengenali perbedaan siang dan malam hari

Banyak bayi baru yang bangun pada malam hari -diistilahkan sebagai
night owl- mereka benar-benar terbangun ketika Anda sedang bersiap-siap tidur. Selama beberapa hari pertama setelah kelahiran, Anda tidak dapat melakukan apapun atas hal ini. Tetapi ketika bayi baru sudah memasuki usia 2 minggu, Anda mulai dapat melatihnya untuk membedakan malam dan siang hari. Ketika ia sedang terjaga sepanjang malam, bermainlah dengan si kecil sesering dan selama mungkin, usahakan agar ruangan tempat si kecil berada terang benderang, dan biarkan berbagai suara seperti telepon, tv, atau mesin pengering pakaian berbunyi. Jika si kecil menunjukkan gejala tertidur pada saatnya makan, bangunkan dia.
Sedangkan pada malam hari, jangan mengajak si kecil bermain jika ia bangun untuk menyusu. Hindari cahaya dan suara yang berlebihan, dan jangan terlalu banyak berbicara dengannya. Jika Anda melakukan hal ini
secara intens, maka tak lama setelah mulai melatihnya si kecil akan mengenal perbedaan suasana ini, mengerti bahwa malam hari adalah saatnya untuk tidur.

o Biarkan ia tertidur sendiri

Ketika sudah mencapai usia 6 – 8 minggu, biarkan si kecil memutuskan
waktu tidurnya sendiri. Caranya adalah, dengan meletakkannya di tempat tidur ketika ia mulai mengantuk, sekalipun matanya masih terbuka. Sebaiknya Anda tidak menggendong atau menepuk-nepuknya. Karena jika Anda melakukan hal ini sejak si kecil berusia dini, mengapa kemudian Anda berharap ia tidur tanpa ditepuk, dinyanyikan atau digendong?

Menyusu pada malam hari

Menyusui atau tidak menyusui, itu adalah pertanyaan yang sering dipertanyakan oleh para ibu baru pada malam hari. Semua pakar setuju
bahwa jika bayi Anda belum berusia 3 bulan, sebaiknya Anda menyusuinya setiap kali ia bangun. Setelah ia berusia lebih dari 3 bulan, jangan biarkan si kecil melakukannya.

Jodi Mindell (ahli gangguan tidur anak): “Bayi baru hanya makan dan tidur sepanjang hari. Berilah ASI jika si kecil lapar tengah malam, namun pastikan lampu tidak terang ketika Anda menyusuinya. Hindari berbagai
suara selama menyusui.”

Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Musim Pilek yak… Yuukk.. home treatment dan makan Chicken Soup

Mulai 2 hari yang lalu aku dan Adit kena pilek , idung meler, karena cuaca kan lagi panas banget dan bapaknya pake ac dingin banget pas malem. Jadi deh kita bertiga melerr. Hasil googling untuk mengencerkan ingus bs taro baskom berisi air panas mendidih dan diberi minyak kayu putih ( aku pake 3 tutup botolnya… hehehe ). Mayan banget ternyata, sampe ke dada uap minyak kayu putihnya. Dan yg utama hari ke-2  ingus Adit udah mulai berkurang.

Untuk doping vitamin supaya badannya enakan dan si pilek cepek ilang aku bikin adit sup ayam banyakin tomatnya utk vit c nya. Standard sih.. tpi emg bener2 membantu. At least ingus Adit ga sampe warna hejo gitu ( kaya ingus anak tetangga…iuuhhhh )

Chicken Soup ala Emak Adit

Chicken Soup ala Emak Adit

Bahan – bahan :

4 Sdm Wortel cincang kasar

1Buah Kentang diameter +- 10cm, cincang kasar

2 Sdm Daging Dada Ayam cincang kasar

1 Buah Tomat ukuran diameter 5cm

Seledri & Daun Bawang sesuai selera

Lada secukupnya

1 Blok kaldu ceker beku

Gula Garam ( 12+ )

1 Butir Telur kocok

Cara Membuat :

Didihkan air, masukkan bawang putih berkulit yang sudah dikeprek terlebih dahulu ( kenapa dikeprek dan ga diparut ? Karena aku cuma mau ambil aroma dan rasa garlic yg smooth, tips dri Rachel Show di MetroTV hehehe ), Kaldu, daging ayam, wortel, kentang. Tutup panci dan rebus sampai semua bahan lembek. Setelah matang masukkan lada, seledri & daun bawang, gula garam ( 12+ ), tomat. Tunggu sampai mendidih lagi. Masukkan kocokan telur sedikit demi sedikit dan aduk cepat. Didihkan dan angkat. Sajikan selagi hangat.

Untuk lauk bisa pakai perkedel kentang panggang atau baso tahu. Pokoknya yg lembut2 supaya gampang ditelan Juragan yg lagi pilek ini…heheheh

Comments (2) »

Baso Tahu ( 9+ )

Enak buat dimakan pas hujan – hujan. Seger….🙂

Bahan – bahan :

250ml Air matang

2 buah tahu ukuran 5 x 5 cm

2 Ruas jari Ayam kukus, cincang kasar

1 Sdm Tauge bersihkan ekornya

2 Sdm Terong Ungu kupas dan potong kotak2 0,5 x 0,5 cm

1 blok kaldu ceker

1/2 buah tomat ukuran sedang

gula/garam /lada( optional )

1st butter

1 Siung Bawang Putih cincang kasar

1 Sdm Terigu

Cara Membuat :

Goreng bawang putih dengan butter sampai kecoklatan dan lumatkan dengan sendok makan. Hancurkan tahu dan campurkan dengan 1sdm terigu, 1/2 bawang putih goreng lumat, daun bawang dan seledri, lada. Bentuk bulat2 seperti bakso. Didihkan air, masukkan sisa bawang putih goreng lumat, ayam cincang, terong, tauge, tomat dan baso tahu. Tambahkan gula garam lada sesuai selera ( adit belum bisa :(  ). Hidangkan hangat2.

Leave a comment »